joyce

Tuesday, September 12, 2006

VAKSIN IPD

From: "Tonang D Ardyanto" [EMAIL PROTECTED]

Apa gunanya vaksinasi IPD?

Acute lower respiratory infections are responsible for two million
deaths per year and a large proportion of these are pneumococcal
disease. A recent study (Cutts F. et al., The Lancet 2005) in The
Gambia indicates that more than one third of these deaths might be
caused by the bacterium Streptococcus pneumoniae. Most victims are
children in developing countries. Pneumonia deaths far outnumber
deaths from meningitis. Nonetheless, in non-epidemic situations,
Streptococcus pneumoniae is the main cause of meningitis fatalities
in sub-Saharan Africa; of those who develop pneumococcal meningitis,
40-75 % either die or are permanently disabled. Children infected
with HIV/AIDS are 20-40 times more likely to contract pneumococcal
disease than children without HIV/AIDS.

A seven-valent conjugate vaccine called Prevnar is designed to act
against seven strains of pneumococcal disease. It has been developed
by Wyeth and is licensed in the United States and several other
countries. In the United States, use of this vaccine has led to a
dramatic decline in rates of pneumococcal disease, not only in
immunized children, but also in the un-immunized population through
reduced transmission.

(WHO: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs289/en/)

IPD adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus
(streptococcus pneumoniae). Bakteri tersebut secara cepat dapat
masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasif) serta dapat
menyebabkan infeksi selaput otak (meningitis) yang biasa disebut
radang otak.

Penelitian menunjukkan, sebagian besar bayi dan anak di bawah usia 2
tahun pernah menjadi pembawa ( carrier) bakteri pneumokokus di dalam
saluran pernapasan mereka. Oleh karena itu, bayi baru lahir hingga
bocah usia 2 tahun berisiko tinggi terkena IPD.

Yang paling fatal bila bakteri pneumokokus menyerang otak. Pada
kasus-kasus meningitis seperti ini, kematian akan menyerang 17%
penderita hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah terserang. Kalaupun
dinyatakan sembuh umumnya meninggalkan kecacatan permanen, semisal
gangguan pendengaran dan gangguan saraf yang selanjutnya memunculkan
gangguan motorik, kejang tanpa demam, keterbelakangan mental dan
kelumpuhan.

Dari ketiga bakteri yang biasa menyebabkan meningitis (Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae type B, dan Neisseria
meningitis), Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang
seringkali menyerang anak di bawah 2 tahun. Meningitis karena
bakteri pneumokokus ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam waktu
48 jam. Bila sembuh pun sering kali meninggalkan kecacatan permanen.

Vaksinasi dipercaya sebagai langkah protektif terbaik mengingat saat
ini resistensi kuman pneumokokus terhadap antibiotik semakin
meningkat. Karena anak-anak di bawah usia 1 tahun memiliki risiko
paling tinggi menderita IPD, maka amat dianjurkan agar pemberian
imunisasi dilakukan sedini mungkin. Untungnya, saat ini sudah
ditemukan vaksin pneumokokus bagi bayi dan anak di bawah 2 tahun.

(dari artikel sebuah tabloid kesehatan, oleh: Sukman Tulus Putra,
dr., Sp.A.(K), FACC, FESC, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI))

Apakah vaksinasi ini dipakai di tempat lain?

Menurut salah seorang dokter di milis sehat(1): Aman tidak, Di
indonesia baru tahun ini 2006, tapi di Amrika, sejak 2000 sudah
disuntikan wajib dan laporan ilmiah tahun 2001 telah 23 juta dosis
diberikan dengan efek samping yang tidak jauh lebih banyak dari efek
samping imunisasi rutin saat itu. Sampai sekarang telah
direkomendasikan di Amerika, Australia, Korea, Philipina, Spanyol,
Malaysia, Singapore dan Canada.

(lebih lengkap di situs WHO
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs289/en/)

Apakah sudah dilaksanakan di Indonesia?

Situs resmi IDAI (http://www.idai.or.id/) belum memasang jadwal terbaru
setelah jadwal tahun 2004 hasil revisi.

Menurut salah seorang dokter di milis sehat(1): Dari bocoran hasil
rapat Satgas imunisasi IDAI di medan (1-5 mei) direkomendasikan
untuk dimasukkan bersamaan vaksin influensa pada jadwal rekomentasi
idai 2006.

Menurut situs majalah Anakku (http://www.anakku.net/ dibuka pada tanggal 19
Mei 2006): Vaksinasi IPD direkomendasikan oleh IDAI sejak tahun 2006
bersamaan dengan mulai direkomendasikannya vaksinasi Influenza.

Bagaimana jadwalnya?
Imunisasi IPD pada usia (1):
* <> 4 kali
* 6 - 12 bulan diberikan dasar 2 kali, dan penguat seperti diatas
==> 3 kali
* 12 - 24 bulan . Diberikan dasar 2 kali tidak perlu penguat. ==> 2
kali
* > 24 bulan. Diberikan 1 kali ==> 1 kali

Apa nama vaksin IPD?
Ada dua jenis yang sudah beredar, dan ada yang dalam
pengembangan/penelitian.

* Prevenar atau PCV 7 (diseluruh dunia sama mereknya): berisi 7
serotype (4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F and 23F). Bisa diberikan pada
sejak bayi usia 2 bulan. Harganya relatif mahal.

* Pneumo23: berisi 23 serotype:
1,2,3,6B,7F,8,9N,9V,10A,11A,12F,14,15B,17F18C,19A,19F,20,22F,23F,33F
, diberikan pada anak berusia lebih dari 2 tahun. Harganya lebih
murah

* Sedang dikembangkan vaksin baru berisi 9 serotype (prevenar
ditambah serotype 1 dan 5, yang banyak menimbulkan pneumococcus
disease di negara berkembang). Diharapkan ijinnya akan keluar 2-3
tahun lagi. (Produksi Wyeth)

* Sedang dikembangkan juga vaksin berisi 11 serotype (produksi GSK
dan Sanofi-Pasteur).

Ada keuntungan lain dalam penelitian vaksin produksi baru ini bahwa:
In addition, an unexpected benefit of vaccination (9 serotype
vaccine) was the decrease of symptomatic pneumonia cases associated
with a viral infection, whether influenza virus or one of the
paramyxoviruses.

(WHO: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs289/en/)

Apa efek samping vaksinasi ini?
Menurut labelnya, efek samping yang sering terjadi (Very common)
pada pemberian prevenar pada saluran pencernaan adalah diare dan
muntah.

Menurut artikel oleh dokter Sukman Tulus Putra: Reaksi terhadap
vaksin yang terbanyak dilaporkan adalah demam ringan <> 38. Belum ada yang mengeluh diare dan muntah.

Apa yang perlu diperhatikan?
Bila ada riwayat reaksi alergi terhadap imunisasi Dipteria (DPT),
maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar (kontraindikasi),
karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria toxin
(sebagai protein-carrier).

Pemberian imunisasi IPD tidak menghapus jadwal imunisasi yang lain
(seperti HiB, tetap seperti jadwalnya, karena bakteri penyebabnya
berlainan jenis).

Apa ada yang perlu diperhatikan?
Bila ada riwayat reaksi alergi terhadap imunisasi Dipteria (DPT),
maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar (kontraindikasi),
karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria toxin.

Apa kendalanya?
Harga vaksinasi masih relatif tinggi. Dilaporkan berkisar 850-950
ribu rupiah (Prevenar).

WHO menyebutkan:
A vaccine providing effective protection against pneumococcal
disease for
young children in developing countries may be ready for use in 2008-
2009,
and could be introduced in such countries provided adequate supply
and
financial help are arranged.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:
It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease
as developing countries often lack the clinical and laboratory
facilities, the expertise, and the resources to do so. As a result,
public health decision-makers are often unaware of the prevalence of
the disease and of the toll it exacts in death and disability.
Because of the scarcity of data from developing countries, there is
concern over whether the seven-and nine-valent vaccines contain the
serotypes appropriate for all countries. Concerns remain - although
results to date are encouraging - that prevention of some serotypes
of pneumococcal disease may lead to increased incidence of other
serotypes. The price of the vaccine, although still to be set for
developing countries, may be too high for them to afford without
special financing arrangements.

Menurut salah seorang dokter di milis sehat(2):
Sebenarnya masih ada pertanyaan apakah serotype yang digunakan pada
Prevenar
sesuai dengan serotype di Indonesia. Karena itu baru akan dilakukan
penelitian. Kalau misalnya lebih spesifik dan lebih sedikit
jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga lebih murah.

Menurut informasi dari seorang SpA(3):
Sakit IPD-nya sudah jelas ada, hanya soal apa serotypenya. Pemilihan
7 serotype ini didasarkan pada pemberian di Malaysia, Singapura,
Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis seperti Indonesia.

Saat ini yang sudah diteliti ada di tiga tempat: Jakarta (3),
Bandung (4) dan Mataram (5). Dari ketiganya, baru Mataram yang sudah
diketahui serotypenya. Tahun ini akan dilakukan penelitian multi-
senter di 5 tempat, untuk memastikan jenis serotype-nya. Hasilnya
mungkin baru tahun depan diketahui dengan pasti.

Keterangan:
1: dr. JS Wibisono, SpA
2: dr. Purnamawati, MMPed. SpA(K)
3: Prof. Hardiono Pusponegoro, SpA(K)
4: Prof. Cissy Kartasasmita, SpA(K)
5: Prof. Soewignyo, SpPD(K).

Semoga bermanfaat, mohon dikoreksi dan ditambahi oleh semuanya agar
lebih sempurna.

Catatan: ini bukan tulisan resmi, artinya untuk konsumsi milis. Bila
untuk konsumsi publik (situs, leaflet, brosur, poster), tentu cara
penulisan harus disesuaikan.

tonang

===========================
Serotype Vaksin IPD

Agar ada tambahan informasi, saya coba rangkum sedikit khusus
tentang isi serotype vaksin IPD. Untuk yang Pneumo23 mungkin di luar
pembahasan (tetapi ada juga laporan menarinya).

Serotype isi Prevenar: 4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F and 23F

Yang dalam penelitian sekarang:

A. 9-valent (9 serotype): 1, 4, 5, 6B, 9V, 14, 18C, 19F and 23F Ada
tambahan 1 dan 5 dibandingkan Prevenar. Serotype 1 dan 5 ini
dilaporkan banyak sesuai untuk negara berkembang. Penelitian
menunjukkan hasil baik di Afrika Selatan dan Gambia. Kemungkinan
ijin keluar 2-3 tahun lagi (2008-2009). (WHO:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs289/en/)

B. 11-valent (11 serotype): 1, 3, 4, 5, 6B, 7F, 9V, 14, 18C, 19F and
23F Sedang diteliti di Philiphina, ada tambahan serotype 1,3,5,7F
dibandingkan Prevenar. Dilaporkan memberikah hasil baik, pada
penelitian sejak tahun 2002 (1). Ada juga kekhasan, karena efek
imunogeniknya lebih baik pada anak-anak Philiphina daripada Israel
atau Finlandia (2). Untuk mengatasi kemungkinan mahalnya, dicoba
pula cukup diberikan sekali injeksi pada usia 18 minggu.
Hasilnya masih sebanding dengan yang diberikan 3 kali (6, 10 dan 14
minggu) ketika diukur kadar antibodinya saat usia 9 bulan (3).
Harapannya, kalaupun terpaksa hanya sekali sudah cukup memberikan
kekebalan, membantu bagi masyarakat negara berkembang (miskin sumber
daya).

Yang juga menarik, di Philiphina dicoba memberikan Pneumo23 pada Ibu
hamil, dan ternyata menimbulkan antibodi yang kuat dan bisa
diturunkan pada bayinya diukur dari kadar antibodi dalam darah tali
pusat (4).

Bagaimana di Indonesia?

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok,
angka infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%,
dengan angka kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat
infeksi sistem syaraf pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian
9 per 1000 kelahiran hidup. Laporan itu menganjurkan untuk
memfokuskan usaha penurunan angka kematian bayi pada menurunkan
kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya mengevaluasi
masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.(5)

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484
anak-anak yang sehat usia 0-25 bulan di Pulau Lombok, diperoleh
prevalensi carrier 48%. Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33,
or 12. Untunglah, pada sampel tersebut, masih cukup sensitif
terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime. Lombok berarti
termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6). Meskipun
ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi (7).

Kalau kita lihat, hasil serotype di Lombok ini, masih ada 3 serotype
(12, 15 dan 33) yang belum termasuk dalam Prevenar, maupun dalam 9-
valent vaccine dan 11-valent vaccine yang sedang diteliti. Sementara
produk Pneumo23 sudah mencakup semua serotype yang dilaporkan oleh
penelitian Lombok tersebut. Belum ada laporan lain yang spesifik
tentang pneumococcus ini dari
penelitian di Indonesia.

Hal ini tentu menjadi perhatian tersendiri, dalam menilai
efektifitas vaksinasi IPD dengan produk yang sudah ada maupun yang
sedang dalam pengembangan.

Semoga menambah informasi, silakan dikoreksi agar makin lengkap.

tonang


Message: 10
Date: Sun Jun 4, 2006 5:09 pm (PDT)
From: "Tonang D Ardyanto" [EMAIL PROTECTED]
Subject: Tentang IPD

Nampaknya ramai soal IPD nih, maaf rangkuman dulu belum sempat
diteruskan? Adakah data baru yang perlu dimasukkan?

Berikut pendapat saya:

1. Menurut penelitian Lombok, baik Prevenar maupun bakal vaksin yang
Sedang diteliti di Afrika/Gambia maupun Philiphina belum mencakup
semua Serotype yang ditemukan di Indonesia. Yang sudah mencakupnya
adalah Pneumo23. Dengan pemikiran ini, berarti mungkin vaksin IPD
belum cocok.

2. Sebaliknya, penelitian Indonesia baru di Lombok, dan itu tentu
belum Bisa merepresentasikan serotype yang sebenarnya di Indonesia.
Dengan Pemikiran ini, pemberian vaksin IPD menjadi penting, karena
tetap ada kemungkinan itu sudah mencakup banyak serotype yang ada di
Indonesia. Dari prinsip daripada berisiko, tentu lebih baik
memberikan IPD.

3. Laporan Lombok 2001 juga menyebut bahwa Infeksi pneumococcus
masih senssitif terhadap penicilline dan cefotaxime. Lagi-lagi, itu
di Lombok,kita tidak tahu di tempat-tempat lain yang memang "belum"
ada laporan. (saya sebutkan "belum" adalah etika bahwa mungkin saja
sudah ada laporan, tetapi saya yang tidak sanggup mencarinya).
Sementara laporan tahun 1999,resistensi terhadap AB tersebut
dilaporkan makin meningkat di Asia. Kita juga sudah sering mendengar
soal resistensi terhadap penicillin ini terhadap beberapa penyakit
infeksi di Indonesia.

(Kita memang selalu kurang data dalam membuat keputusan. Akhirnya
kita terpaksa berhitung risiko dengan perhitungan yang apa adanya,
dengan data yang ada. Kalau kita menunggu sampai ada vaksin yang
diproduksi benar-benar sesuai dengan data Indonesia, nampaknya butuh
waktu bertahun-tahun lagi.).

Dari pertimbangan seperti itu, menurut saya kita pakai urutan
prioritas saja:
1. Penuhi semua imunisasi wajib, bila perlu cukup di puskesmas yang
Lebih terjangkau.
2. Penuhi imunisasi anjuran.
3. Kalau bisa berikan secara simultan/combinasi (memang pemberian
Kombinasi dan/atau simultan ada risiko penurunan tingkat
imunogenisitas, tetapi masih dalam rentang di atas garis
perlindungan).
4. Kalau terpaksa ada yang tidak bisa dipenuhi, prinsip dasar tetap
berlaku:jaga kesehatan diri agar tidak terkena infeksi.

Catatan: saya tidak sertakan referensi pendukung karena pernah saya
sampaikan sebelumnya.

Demikian,

tonang
--- dokter umum masih belajar RUD

From: "Tonang D Ardyanto" [EMAIL PROTECTED]
Date: Wed May 24, 2006 7:43am(PDT)
Subject: Re: Kembali Lagi IPD.

Para TS dan SP,

Dalam pola pikir saya secara sederhana, saya sepakat bahwa bila
memang secara ekonomi mampu, tidak ada ruginya memberikan vaksinasi
IPD ini. Bahwa isi Prevenar belum mencakup seroptype seperti laporan
di Lombok, kita tidak punya pilihan lain saat ini. Bahkan 9-valent
di Afrika/Gambia dan 11-valent di Phillipina yang sedang diteliti
pun, ternyata sama-sama tetap belum mencakup 3 serotype menurut
laporan Lombok. Memiliki data Indonesia sendiri, tentu itu harapan
besar kita bersama. Bisa memproduksi dalam negeri sesuai data
sendiri, dengan harga tersubsidi, itu harapan lebih besar lagi. Tapi
sementara itu belum terlaksana, ya kita hanya bisa menggunakan yang
sudah ada.

Saya sebut tidak ada ruginya, karena toh kita pun baru punya 1
penelitian di Lombok tersebut. Tidak tahu apakah yang di tempat-
tempat lain Indonesia, juga memiliki serotype yang sama. Dan selama
tidak tahu, terpaksa berpikir risiko terburuk, tentu tidak ada
ruginya memberikan Prevenar. Sebaliknya, bila memang tidak mampu
secara ekonomi, kita memandangnya dari sisi lain. Kita berusaha
mencegah terjadinya penyakit tersebut, dengan menjaga kesehatan anak
kita.

Ada juga harapan, bagaimana dengan pemberian Pneumo23 (lebih murah)
kepada Ibu hamil yang bisa diturunkan kekebalannya kepada anaknya.
Hal ini perlu jadi pertimbangan juga.

Ringkasnya, kita berpikir prioritas saja. Prioritas pertama:
imunisasi wajib, ibaratnya kalau terpaksa ya ikut di puskesmas yang
terjangkau. Kedua: kelompok yang anjuran. Ketiga: kalau bisa
diberikan secara combined atau simultan. Ke empat: kalau bisa ya
menjalani booster/ulangan. Bahwa ternyata ada tingkatan yang kita
belum sanggup mencapainya, kita kembali ke dasar: jaga kebersihan,
jaga lingkungan, jaga kesehatan, dan berdoa.

Semoga kita tidak lagi miskin data,

tonang

0 Comments:

Post a Comment

<< Home