joyce

Monday, September 11, 2006

MITOS ASI

MENYUSUI MERUBAH BENTUK BUAH DADA WANITA

TIDAK BENAR Mitos atau pendapat yang mengatakan bahwa
menyusui dapat
mempengaruhi atau merubah bentuk payudara secara
permanen. Sebenarnya
yang merubah bentuk payudara adalah kehamilan, bukan
menyusui. Kehamilan
menyebabkan dikeluarkannya hormon-hormon dan
menyebabkan terbentuknya
air susu yang mengisi payudara. Payudara yang sudah
terisi air susu
tentu akan berbeda bentuknya dengan payudara yang
belulm terisi oleh air
susu. Jadi yang menyebabkan perubahan bentuk payudara
adalah kehamilan
bukan menyusuinya. Besarnya perubahan bentuk payudara
sangat tergantung
dari turunan (herediter), usia dan juga oleh
penambahan berat badan pada
waktu kehamilan.

MENYUSUI MENYEBABKAN KESUKARAN MENURUNKAN BERAT BADAN

TIDAK BENAR. Data membuktikan bahwa menyusui dapat
membantu ibu
menurunkan berat badan lebih cepat daripada yang tidak
memberikan ASI
secara ekslusif. Sebab dengan menyusui timbunan lemak
yang terjadi pada
waktu hamil akan dipergunakan dalam proses menyusui,
sedangkan wanita
yang tidak menyusui akan sukar menghilangkan timbunan
lemak yang memang
khsusus dipersiapkan oleh tubuh untuk menyusui ini.

ASI BELUM KELUAR PADA HARI-HARI PERTAMA SEHINGGA PERLU
DITAMBAH SUSU
FORMULA

Pada hari pertama sebenarnya bayi belum memerlukan
cairan atau makanan,
sehingga tidak atau belum diperlukan pemberian susu
formula ataupun
cairan lain, sebelum ASI keluar "cukup" (Cairan
Prelactal feeding). Bayi
pada usia 30 menit harus disusukan pada ibunya, bukan
untuk pemberian
nutrisi, tetapi untuk belajar menyusui atau
membiasakan menghisap puting
susu dan juga guna mempersiapkan ibu untuk mulai
memproduksi ASI.
Gerakan reflek untuk menghisap pada bayi baru lahir
akan mencapai
puncaknya pada waktu berusai 20-30 menit, sehingga
apabila terlambat
menyusui, reflek ini akan berkurang dan tidak akan
kuat lagi sampai
beberapa jam kemudian.

Pemberian prelactal feeding sebetulnya tidak
diperlukan karena hanya
akan merugikan ibu, yaitu ASI ibu akan lebih lambat
terbentuk karena
bayi tidak cukup kuat menghisap, dan merugikan bayi
sebab bayi akan
kurang mendapat kolostrum. Bila bayi kurang atau tidak
mendapat
kolostrum, akan lebih sering menderita mencret atau
penyakit lain,
terutama bila susu formula atau cairan
prelactal/lainnya tercemar.
Selain itu, bila cairan prelactal diberikan dengan
dot, kemungkinan bayi
akan mengalami kesukaran minum pada puting susu ibunya
atau bingung
puting (nipple confusion).

IBU BEKERJA TIDAK DAPAT MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF 6BULAN

TIDAK BENAR. Banyak ibu-ibu bekerja yang telah
berhasil memberikan ASI
ekslusif pada bayinya selama 6bulan. Bahkan ibu
bekerja tidak memerlukan
tambahan pada cuti hamil 3 bulannya untuk dapat tetap
memberikan ASI
ekslusif sampai 6 bulan. Pada ibu bekerja, cara lain
untuk tetap dapat
memberikan ASI ekslusif pada bayinya adalah dengan
memberikan ASI peras
atau perahnya pada bayi selama ibu bekerja. SElama ibu
ditempat kerja,
sebaiknya ASI diperah, minimum 4 X 15menit. Memerah
ASI sebaiknya hanya
menggunakan jari tangan, tidak menggunakan pompa yang
berbentuk
terompet. ASI perah tahan 6-8 jam di udara luar, 24
jam di dalam termos
es berisi es batu, 48 jam dalam lemari es dan 3 bulan
apabila berada
dalam freezer. Dengan bantuan "Tempat Kerja Sayang
Ibu", yaitu tempat
kerja yang memungkinkan karyawati menyusui secara
ekslusif, keberhasilan
ibu bekerja untuk memberikan ASI ekslusif akan menjadi
lebih besar lagi.

PAYUDARA SAYA KECIL TIDAK MENGHASILKAN CUKUP ASI

TIDAK BENAR. Besar kecilnya payudara tidak menentukan
banyak atau
sedikitnya produksi ASI, karena payudara yang besar
hanya mengandung
lebih banyak jaringan lemak dibandingkan dengan
payudara yang kecil. ASI
dibentuk oleh jaringan kelenjar pembentuk air susu
(alveoli) dan bukan
jaringan lemak. Jadi, besar kecilnya payudara tidak
menentukan banyak
sedikitnya produksi ASI.

ASI YANG PERTAMA KALI KELUAR HARUS DI BUANG KARENA
KOTOR

ASI yang keluar pada hari 1 sampai dengan hari ke 5
s/d hari ke 7,
dinamakan kolostrum, atau susu jolong. Cairan jernih
kekuningan itu
mengandung zat putih telur ata protein dalam kadar
yang tinggi, zat anti
infeksi atau zat daya tahan tubuh (immunoglobulin)
dalam kadar yang
lebih tinggi daripada susu mature, disamping itu juga
mengandung laktosa
atau hidrat arang dan lemak dalam kadar yang rendah
sehingga mudah
dicerna.

Volume kolostrum bervariasi antara 10 ccf - 100 ccf
per hari. Volume
yang rendah ini memberikan beban yang minimal bagi
ginjal bayi yang
belum amtang. Selain sebagai nutrisi kolostrum
melindungi bayi terhadap
penyakit-penyakit infeksi. Dalam penelitian, kolostrum
terbukti sangat
bermanfaat bagi bayi premature dan bayi sakit. Apabila
kolostrum
dibuang, maka bayi akan kurang atau tidak mendapatkan
zat-zat pelindung
terhadap penyakit infeksi. Tak dapat disangkal lagi
bahwa kolostrum
sangat berguna bagi bayi untuk melindunginya dari
infeksi. Walaupun saat
ini telah diketahui bahwa kolostrum sangat dibutuhkan
oleh bayi, namun
masih banyak praktek-praktek yang menyebabkan bayi
kekurangan kolostrum
yang kaya dengan nutrien berguna ini. Misalnya, antara
lain, dengan
masih memberikan prelactal feeding.

ASI IBU KURANG GIZI, KUALITASNYA TIDAK BAIK

Bayi dan ASI sebenarnya bersifat parasit bagi ibu.
Sampai dengan batas
keadaan tertentu, kualitas dan kuantitas ASI akan
tetap dipertahankan,
walaupun harus dengan mengorbankan gizi si ibu
sendiri. Kualitas ASI
baru berkurang apabila ibu menderita kekurangan gizi
tingkat ke-3,
bahkan sering kali kualitas ASI masih tetap
dipertahankan sampai tingkat
kekurangan gizi ibu lebih dari derajat ini.

"ASI SAYA TIDAK CUKUP", "ASI SAYA KERING", "BAYI TIDAK
CUKUP DAPAT ASI
KARENA RAKUS/ MINUMNYA BANYAK"

Dari sebuah penelitian didapatkan data bahwa 98 rbu
dari 100 ribu
ibu-ibu yang mengatakan produksi ASInya kurang,
sebebarnya mempunyai
cukup ASI, tetapi kurang mendapat informasi tentang
manajemen laktasi
yang benar, posisi menyusui yang tepat, serta
terpengaruh mitos-mitos
tentang menyusui, yang umumnya dapat menghambat
produksi ASI. Umumnya
apabila seorang bayi kurang mendapat ASI atau kurang
minum, sebenarnya
bukan ibunya yang tidak dapat memproduksi ASI sebanyak
yang
diperlukannya. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai
hal, misalnya
karena posisi menyusui yang tidak benar. Posisi yang
dimaksud di sini
adalah posisi mulut bayi terhadap putting ibu,
bukannya posisi badan
bayi terhadap badan ibu. Produksi ASI dirangsang oleh
pengosongan
payudara, berlaku prinsip supply and demand, sehingga
semakin banyak ASI
dikeluarkan, maka akan semakin banyak pula ASI
diproduksi. ASI
diproduksi sesuai dengan jumlah permintaan dan
kebutuhan bayi. Selama
bayi masih melanjutkan permintaannya akan
ASI, dengan masih menghisap ASI, selama itu payudara
ibu akan tetap
melakukan produksinya. Apabila bayi berhenti meminta
ASI, dengan cara
berhenti menghisap maka payudara ibu pun akan berhenti
memproduksi ASI.

Bila ASI mengandung Residu Pestisida (Dioxin, DDT,
PCBs) dan bahan
beracun, sejauh mana bahayanya bagi bayi?

Banyak ibu-ibu yang gelisah dengan adanya laporan yang
menakutkan
tentang tercemarnya selain susu sapi juga ASI oleh zat
beracun seperti
diozin atau logam berat yang berbahaya yang akan
membahayakan kesehatan
bayinya. Sebenarnya tidak ditemukan bukti-bukti secara
kedokteran adanya
bayi yang sakit karena disusui oleh ibu yang
mengandung zat-zat beracun
ini.

Para ahli yang mempelajari hal ini, termasuk antara
lain Ketua Persatuan
Dokter Anak Amerika Serikat, berulang-ulang meyakinkan
masyarakat bahwa
keuntungan menyusui jauh melebihi bahaya menyusui
dengan ASI yang
tercemar oleh zat-zat racun ini. Sehingga pemberian
ASI tetap dianjurkan
dalam keadaaan seperti ini.

Racun-racun ini sebenarnya lebih berbahaya pada masa
kehamilan terutama
pada blan ke-6 sampai ke-8 dibandingkan dengan pada
waktu menyusui. Jadi
bila didapatkan racun pada bayi, kemungkinan bayi
mendapatkan racun ini
sewaktu dalam kandungan lebih banyak dari pada dari
ASI. Didapatkan
bukti bahwa menyusui mungkin bahkan dapat memberikan
perlindungan
terhadap zat kimi yang beracun tertentu. Pada
kecelakaan kebocoran
reactor di Chernobyl, didapatkan bahwa kada zat radio
aktif dalam ASI
jauh lebih sedikit dari kadar ini dalam tubuh ibu.
Keadaan ini membuat
para ahli berkesimpulan, adanya suatu mekanisme tubuh
tertentu yang
menyaring racun sehingga didapatkan konsentrasi yang
rendah dalam ASI.

Apa yang harus dikerjakan Ibu untuk mengurangi
kontaminasi ASInya dengan
zat beracun?

Ibu hamil atau menyusui, sebaiknya:

1. Tidak memakan ikan air tawar yang diketahui
terkontaminasi

2. Kupas dan cucilah dengan benar buah-buahan dan
sayur-sayuran terutama
untuk menghindari akibat terkontaminasi residu
pestisida

3. Buang bagian lemak dari daging, ayam dan ikan,
karena bahan kimi
berbahaya umumnya melekat pada lemak

4. Hinari produk-produk makanan yang banyak mengandung
lemak mentega

5. Jangan melakukan diet berat selama kehamilan dan
menyusui, karena
penurunan berat badan secara tiba-tiba dapat
memobilisasi sel lemak dan
melepaskan zat kimia berbahaya yang umumnya terikat
pada lemak, sehingga
mungkin akan mencapai tubuh bayi.

6. Hindari pemakaian pestisida dan hindari
tempat-tempat dimana
diperkirakan banyak pestisida digunakan.

Menyusui adalah pemberian sangat berharga yang dapat
diberikan seorang
ibu kepada bayinya. Dalam keadaan sakit atau kurang
gizi, menyusui
mungkin merupakan pemberian yang dapat menyelamatkan
kehidupan bayi.
Dalam kemiskinan menyusui mungkin merupakan pemberian
satu-satunya.
--- Luluk Lely Soraya I <lsoraya@cbn.net.id> wrote:

> Dear Mbak Okti,
>
> Anggapan ini juga termasuk mitos.
> Dan spt kebanyakan mitos, anggapan bahwa kualitas &
> kuantitas ASI utk anak
> 1, 2,3 dst akan beda2 juga gak benar.
> Yg benar adalah jika dua jalur utama produksi
> terganggu, maka ASI juga
> akan terganggu produksinya.
>
> Dua jalur utama itu :
> 1. Terhambatnya produksi ASI akibat pemberina ASI dg
> jam, pemberina susu
> formula, pemberian apapun selain ASI juga sangat
> beresiko mengurangi
> produksi ASI. DIsni sebtulnya fungsi utama dari
> hormon prolaktin yg makin
> berfungsi jika ASI terus dikeuluarkan (dg cara
> disusukan langsung pada
> bayinya atau diperas/pompa). INgatMudahnya, inget
> pabrik aja. Kalo makin
> sering diminta, pasti akan sering diproduksi kan ?!
> gitu jgua sebaliknya.
>
> 2. Terhamabtnya produksi ASI akibat ibu yg serba
> khawatir, ibu yg gak
> pede, dsbnya. Ingat saja bahwa kondisi psikologis
> ibu menyusui memiliki
> peranan >80% menentukan kebrhasilan sekaligus
> kegagalan ASI eksklusif. Ini
> akibat kerja dari hormon oksotosin yg sangat
> sensitif. Ada satu pikiran
> saja "duh ASI saya cukup gak ya?!"m kaa ratusan
> sensor syaraf akan
> mengirimkan pesan ke otak supaya hormon oksitosin
> bekerja lamba. Akibatnya
> ? ya ASI jadi betul2 berkurang. Jadi PEDE dan
> positif thinking itu modal
> utamanya. Sebetulnya disini juga peranan besar seorg
> ayah. Krn itu saat
> ini dikenal istilah breastfeeding father.
>
> OK moga jelas ya.
> Sering banget saya nemuin masalah mitos ini yg
> menghambat para ibu
> menyusui utk menyusui secara optimal. Apalagi kalo
> lagi siaran tiap sabtu,
> pasti banyak sekali yg bertanya soal ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home