joyce

Sunday, September 10, 2006

MANAGEMENT ASI IBU BEKERJA


Beberapa artikel ttg ASI buat ibu bekerja.
Smoga bermanfaat.

Uci mamaKavin

Manajemen ASI bagi Ibu Bekerja
From; milis sehat

Seringkali ibu-ibu bekerja mengalami dilema antara
ingin memberikan ASI
eksklusif kepada bayinya dengan memberikan susu
formula. Dengan alasan
yang klasik ibu-ibu bekerja memilih untuk memberikan
susu formula kepada
bayinya.
Disini diuraikan mengenai bagaimana kita dapat
mengelola ASI dengan
berbagai jenis alat bantu. Dengan sedikit bersusah
payah kelak ibu dan
anak dapat memperoleh manfaat yang besar.

Memeras ASI bermanfaat untuk:
* memberikan makan BBLR
* menghilangkan bendungan
* menjaga pasokan ASI saat ibu sakit
* meninggalkan ASI untuk bayi saat ibu pergi atau
bekerja
* menghilangkan rembesan ASI


A. Memeras ASI dengan tangan

Semua ibu harus belajar memeras ASI. Ibu dapat mulai
belajar selama
kehamilan dan dapat menerapkannya segera setelah
melahirkan. Memeras
dengan tangan tidak memerlukan alat bantu sehingga
seorang wanita dapat
melakukannya dimana saja dan kapan saja. Memeras
dengan tangan mudah
dilakukan bila payudara lunak. Lebih sulit lagi bila
payudara sangat
terbendung dan nyeri.


B. Cara memeras ASI dengan tangan

* Siapkan cangkir, gelas atau mangkuk yang sangat
bersih. Cuci
dengan air sabun dan keringkan dengan tissue/lap yang
bersih. Tuangkan
air mendidih ke dalam cangkir dan biarkan selama
beberapa menit. Bila
sudah siap untuk memeras ASI, buang air dari cangkir.
* Cuci tangan dengan seksama
* Letakkan cangkir di meja atau pegang dengan satu
tangan lain
untuk menampung ASIP.
* Badan condong ke depan dan sangga payudara dengan
tangan
* Letakkan ibu jari sekitar areola di atas puting susu
dan jari
telunjuk pada areola di bawah puting susu.
* Pijat ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding
dada.
* Sekarang pijat areola di belakang puting susu di
antara jari dan
ibu jari. Ibu harus memijat sinus laktiferus di bawah
areola.
* Tekan dan lepas, tekan dan lepas. Pada mulanya tidak
ada ASI
yang keluar, tetapi setelah diperas beberapa kali, ASI
mulai menetes.
ASI bisa juga memancar bila refleks pengeluaran aktif.
* Peras areola dengan cara yang sama dari semua sisi
agar yakin
ASI diperas dari semua segmen payudara.
* Jangan memijat puting susu itu sendiri. Jangan
menggerakkan jari
sepanjang puting susu. Menekan atau menarik puting
susu tidak dapat
memeras ASI. Ini merupakan hal yang sama terjadi bila
bayi mengisap dari
puting susu saja.
* Memeras ASI untuk BBLR atau bayi sakit
Ibu harus memeras sebanyak mungkin ASI setiap kali
bayi perlu disusui.
Bagi BBLR adalah 8 kali atau lebih sehari. Penting
untuk memeras
sesering dan sebanyak mungkin untuk mempertahankan
pasokan ASI. Bila ibu
memeras ASI lebih banyak daripada yang diperlukan
bayi, ASIP dapat
diberikan bagi bayi lain yang ibunya tidak dapat
memeras cukup, atau
berikan pada BBLR yang ibunya belum keluar ASI.
* Untuk mempertahankan pasokan ASI saat ibu atau bayi
sakit
Ibu harus memeras ASI sebanyak dan sesering mungkin
yang diinginkan
bayi. Berikan pada bayi bila mungkin.
* Menghilangkan bendungan
Peraslah sesering dan sebanyak mungkin yang diperlukan
agar payudara
tetap nyaman dan menjaga kelenturan puting susu bagi
isapan bayi.
Beberapa ibu mungkin perlu memeras setiap kali sebelum
menyusui. Pada
ibu yang lain mungkin hanya perlu memeras satu atau
dua kali sehari.
Beberapa ibu mendapatkan bahwa kompres hangat atau
pijatan lembut
membantu ASI mengalir.
* Menghilangkan penetesan ASI
Memeras ASI cukup banyak untuk mengurangi tekanan pada
payudara. Tidak
perlu untuk memeras ASI banyak sekali.


C. Pompa listrik

Pompa listrik ASI lebih efisien dan cocok bagi
pemakaian di rumah sakit.
Tetapi, semua pompa mudah membawa infeksi. Hal ini
sangat berbahaya bila
lebih dari satu ibu menggunakan pompa yang sama.


D. Cara botol hangat

Ini merupakan teknik yang bermanfaat untuk
menghilangkan bendungan,
terutama bila payudara sangat nyeri dan puting susu
tegang.
Cara menggunakan teknik botol hangat adalah:
- Cari botol besar (misalnya berukuran 1 liter, 700
ml, atau 3 liter)
dengan leher lebar (bila mungkin).
- Mintalah keluarga untuk memanaskan sejumlah air dan
isilah botol
dengan air panas. Biarkan beberapa menit, untuk
menghangatkan kaca
botol.
- Bungkus botol dengan kain dan buang air panas.
- Dinginkan leher botol dan masukkan ke dalam puting
susu sampai
menyentuh kulit di sekelilingnya dengan ketat.
- Pegang kuat botol tersebut, setelah beberapa menit
botol mendingin dan
menimbulkan isapan lembut maka akan menarik puting
susu.
- Rasa hangat membantu refleks pengeluaran, dan ASI
mulai mengalir dan
mengisap botol. Kadang-kadang bila wanita pertama kali
merasa isapan
ini, ia akan kaget dan menarik botol. Sehingga harus
ditaruh lagi air
panas dalam botol dan mulai kembali.
- Setelah beberapa saat, nyeri pada payudara berkurang
dan memeras
dengan tangan atau isapan sudah bisa dilakukan.

---------------

Kendati Bekerja, Wanita Harus Berikan ASI Eksklusif

Rabu, 07 Mar 2001 10:11:52 WIB

pdpersi, Jakarta - Kini, wanita tidak lagi terpaku
pada
pekerjaan-pekerjaan domestiknya seperti masak,
mencuci, urus anak, dan
sebagainya. Bukan lagi berkutat dengan tugas-tugas
lamanya sebagai "upik
abu". Pergeseran paradigma dalam benak setiap wanita
tampaknya telah
terjadi. Buktinya, data statistik menunjukkan bahwa
wanita bekerja saat
ini meningkat deras, terutama mereka yang hidup di
kota-kota besar.

Tak lain, pergeseran paradigma itu dipicu oleh
tingginya tingkat
kebutuhan hidup dan meningkatnya pemahaman kaum wanita
tentang
aktualisasi diri. Pendidikan dan kebebasan informasi,
membuat para
wanita masa kini lebih berani memasuki wilayah
pekerjaan lain, yang
dapat memberdayakan kemampuan dirinya secara maksimal.


Namun tidak dapat dipungkiri, wanita bekerja ternyata
punya konsekuensi
buruk pada hubungannya dengan sang buah hati alias
anak. Tahukah anda,
wanita bekerja banyak yang kekurangangan waktu untuk
berinteraksi dengan
si anak. Dan yang lebih menyedihkan lagi, banyak
wanita terpaksa tidak
menyusui anaknya karena tak sempat ataupun tidak mau.

Maka jadilah si anak meminum "susu sapi" yang
jelas-jelas gizinya tak
sebanding dengan "susu manusia". Dan Air Susu Ibu
(ASI) sebagai sumber
makanan terbaik bagi bayi, karena gizinya yang sangat
tinggi, terlupakan
begitu saja.

Kondisi ini, menurut Ira Puspa, seorang konseling ASI
yang pernah aktif
di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), adalah
akibat dari
kurangnya informasi bagi kaum ibu ataupun wanita
tentang dahsyatnya
manfaat ASI. Mereka juga tidak mengetahui manajemen
laktasi.

Padahal, kata Ira, wanita berhak mendapat informasi
mengenai manajemen
laktasi. Mulai manfaat ASI, cara pemberian dengan
sendok, teknik
pengaturan, perawatan payudara, dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan
ASI. Kenapa demikian? Karena memang ASI merupakan
makanan utama dan
satu-satunya bagi bayi selama 6 bulan, yang mempunyai
dampak cukup besar
bagi bayi dan sang ibu sendiri. Inilah yang disebut
ASI eksklusif.

"Depkes dan rumah sakit wajib memberikan informasi
yang benar dan
menyeluruh tentang ASI. Dengan begitu, mudah-mudahan
kaum ibu akan
memilih dalam kesadaran, bukan memilih dalam kebodohan
karena mengganti
ASI dengan susu formula. Sebab, ASI tidak dapat
tergantikan dengan susu
formula nomor satu sekalipun," ujar peraih S2
Development Management AIM
Manila ini.

Bagi Ira, setelah mendapat informasi menyeluruh
tentang ASI, maka tak
ada alasan bagi wanita untuk menolak menyusui dengan
alasan tidak ada
waktu maupun alasan-alasan lain. Menurutnya, ibu yang
sayang bayi akan
berusaha semaksimal mungkin agar bayinya bisa
mengkonsumsi ASI yang
begitu luar biasa efeknya, sesibuk apapun dia.

Bekerja Bukan Alasan

Dalam pemberian ASI, diakui, secara practically untuk
wanita bekerja
memang agak sulit. Namun Ira menegaskan, bukan berarti
tidak bisa
ataupun menjadi alasan untuk tidak menyusui. Selama
ada kemauan dan
keyakinan, pasti bisa dilakukan.

ASI bagi wanita bekerja bisa dilakukan dengan
melakukan penyiasatan dan
manajemen menyusui yang efektif. Dipaparkan Ira, yang
harus dilakukan
bagi wanita bekerja adalah, pertama, kalau bisa
mintalah ijin cuti
selama 3 bulan setelah melahirkan. "Jadi jangan 1,5
bulan sebelum dan
sesudah melahirkan. Lakukanlah bargain dengan atasan
agar bisa
diijinkan, karena 3 bulan full memberikan ASI pada
sang bayi sangatlah
baik," cetusnya.

Kedua, lanjut Ira, tiga minggu sebelum masa cuti
selesai, bayi harus
dibiasakan menikmati ASI dengan cara spoon feeding
(dengan sendok)
selain dengan breast feeding (langsung dari payudara).
Hal ini perlu
agar saat si ibu bekerja lagi, sang bayi terbiasa
dengan ASI perasan
yang diberikan melalui sendok. Mengapa diberikan
dengan sendok? Menurut
Ira, pemberian dengan dot atau botol akan merusak
mekanisme dan bisa
menyebabkan bayi menolak putting ibunya.

Ketiga, pengaturan pemberian ASI, yakni pagi hari
sebelum berangkat ke
kantor, bayi diberi ASI melalui breast feeding
sebanyak-banyaknya.
Siangnya di kantor si ibu memerah ASI-nya kurang lebih
15 menit kiri dan
kanan, kemudian taruh di plastik dan letakkan di dalam
freezer (kantor
sekarang umumnya punya lemari es). Sore atau malam
saat si ibu di rumah
ASI tetap diberikan melalui breast feeding hingga pagi
hari. Siangnya
saat si ibu di kantor, ASI hasil perasan kemarin
diberikan lewat spoon
feeding.

Satu hal yang perlu diingat, tegas Ira, jangan sampai
anak kehilangan
kemampuan untuk menyusu pada ibunya (menghisap puting
ibunya). Selama si
ibu ada di rumah ASI diberikan secara langsung.
"Pokoknya 6 bulan
pertama harus eksklusif, hanya ASI, tidak boleh ada
makanan lain ataupun
susu kaleng. Baru setelah 6 bulan, bayi dikenalkan
dengan makanan
tambahan orang dewasa, tapi jangan yang ekstrem
rasanya, kalau keras
bisa diblender. Intinya makanan yang sehat, tidak
harus susu kaleng,"
papar Ira.

Dituturkan Ira, untuk mewujudkan agar kaum ibu
mendapat informasi jelas
dan bisa menyusui ASI secara ekskluif 6 bulan,
diperlukan tempat kerja
sayang bayi dan rumah sakit sayang bayi. Tempat kerja
sayang bayi adalah
tempat kerja yang memungkinkan ibu-ibu bekerja tetap
dapat memberikan
ASI-nya kepada sang bayi, dengan menyediakan fasilitas
pemerahan ASI.

Sedangkan Rumah sakit sayang bayi adalah rumah sakit
yang tidak hanya
mengutamakan kesehatan ibu saat melahirkan tapi juga
kesehatan bayi
melalui penginformasian ASI secara benar, memberi
waktu bagi si ibu
menyusui bayinya, bahkan menyatukan ruangan antara ibu
dan bayinya, dan
terakhir tidak memberikan susu formula kepada bayi
yang baru dilahirkan.


Sebelum menutup pembicaraan, Ira yang juga menjabat
Manager Vendor
Compliance South East Asia PT GAP Indonesia ini
berpesan, mempunyai anak
dan menyusui bagi wanita adalah kodrat yang harus
diterima. Setiap anak
berhak mendapatkan ASI untuk kelangsungan
pertumbuhannya di masa datang.
Bila tak mau menyusui, lebih bijak untuk tidak punya
anak saja.

"Carilah informasi tentang manajemen laktasi, semoga
generasi kita akan
menjadi generasi yang sehat, unggul, dan pandai,"
harapnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home